Langsung ke konten utama

Postingan

PERIHAL SEGALA PERTANYAAN

Keraguanku selama ini, akhirnya menemukan garis finish. Alhamdulillah, bukan caci maki yang ku ucapkan pada saat pertama ku tau. Namun, hanya sebuah untaian kata, “hah? Beneran? Becanda kali ini mah”.
Ku coba tuk mengumpulkan semua nyawa serta asa yang ku bangun dari tempat tidurku. “hmm.. sepertinya iya, beneran. Yaudah alhamdulillah”. “tapi kok gak bilang?” “tapi kok omongannya gak sesuai ucapannya pada saat itu”. Mungkin, dia khilaf. Masih dalam euforia kebahagian. Baiklah, jawabku pada diriku sendiri.
Wanita yang baik akan bersanding dengan laki-laki yang baik. Begitu pula sebaliknya. Aku dan dia sama-sama tidak baik untuk bersanding. Maka dari itu, takdir hanya membawa kita untuk berjumpa dan berkenalan. Awalnya ku merasa, doaku selama ini sia-sia. Tapi aku mencoba husnudzon kepada sang pemilik hati.
Ku kembalikan barang dia yang ada di kamar, termasuk barang yang pernah dia pinjam. Ku simpan rapi di lemari agar tak terjamah oleh mata ku. Begitupun beberapa foto tempat yang pern…
Postingan terbaru

Deja vu

Apa yang kita ucapkan saat dulu, kelak akan terjadi. Bahkan sampai saat kita merasa lupa, “masa iya sih gue pernah ngomong gitu?”
Nyata, memang itu beneran, bre! Lau boleh percaya gak percaya. Tapi jangan percaya sama gue, musyrik coy!
Jadi, saat gue SD dulu. Gue sering ikut ibu gue anterin adek berobat ke rumah sakit. Itu rutin selama 1 tahun. Belum lagi, bokap gue operasi juga.
Sampai-sampai gue ngebatin, “kerja di rumah sakit kayak gimana sih rasanya?” Itu saat gue masih SD lho.
Gue sekolah, sampai kuliah pun gak ada tertariknya di dunia medis. Hingga akhirnya gue kerja berkecimpung di dunia medis.
Eits, bukan bagian dari medisnya. Tapi, di manajemennya. Sampai akhirnya, kantor gue pindah ke rumah sakit sekarang.
Lain halnya dengan gue kuliah. Dulu waktu mau lulus sekolah kejuruan, gue pesimis banget gak bakal lolos PTN. Dan itu memang benar, karena gue tau kapasitas otak gue gak sebagus anak-anak PTN. Gue cuma ngebatin, gue mau kuliah di kampus itu aja lah kalo nanti gak bisa masuk PTN.
Allah kasih g…

KIKISAN RINDU

Damainya suasana Ramadan yang selalu dinanti seluruh umat muslim Semakin banyak yang mencoba saling merangkul Berlomba-lomba menabung pahala Semua melebur, saling bertoleransi Menghormati keyakinan masing-masing yang dianutnya
Mereka yang masih mencari nafkah di ujung petang Merelakan waktu ibadah malamnya demi secercah harapan keluarga Berharap pulang membawa uang Demi sesuap nasi dan segaris senyuman yang mengukir wajahnya
Mereka yang jauh dari rumah Tanah perantauan yang membuat kikisan rindu kian membengkak Bertanya pada alam, bisakah ia pulang sejenak menikmati derai tawa keluarganya? Nyatanya, jarak ribuan kilometer dan biaya transport kian melunjak belum mengizinkannya
Pak, bu, maafkan aku Membuyarkan seluruh harapanmu menjadi debu Belum membuat kita menjadi utuh Malah kian meringkuh

SEJENAK

Sejenak Ku merasa kesal dengannya Dapat berubah dalam sekejap Ku bisa bahagia karenanya
Sejenak Ku bisa melupakannya Dapat pula mengingatnya Melalui…. Sebuah kenangan kecil yang terukir
Dengan secangkir kopi hangat Membuat alam sadarku bangkit Mengingat memori tentangnya
Sejenak itu juga Ku merindunya Menepis bahwasanya ia hanya semu

DITELAN WAKTU

Jangan pernah hilang dari bumi, ya Katanya berpesan padaku berulang kali
Ku tanya, mengapa? Karena, supaya aku masih dapat mengamatimu Dari kejauhan, jawabnya
Lalu, bagaimana jika ku hilang ditelan waktu? Allahualam, katamu
Kalau kau bingung mencariku Silakan bertanya pada mbah sejuta umat ‘mbah google’
Kau bilang, biarkan aku berusaha mencarimu S-e-n-d-i-r-i Selama itu masih di bumi Kau masih sanggup mencariku
Senang memang rasanya Ketika ada seseorang yang membuat bahagia Dengan cara sederhananya
Sampai ku terlarut dalam kebahagiaan semu Ku lupa, ada sesosok pria diujung sana Telah ku tenggelamkan dalam kenangan

DINAMIKA OMBAK

Ombak Diam tenang dingin Jikalau tak ada yang mengusik
Ombak Dapat berubah mengecamkan Jikalau ketentramannya diusik yang lain
Saat bercerita Bertukar pikir serta mimpi Begitu tenang Tak ada reaksi Apakah ia masih bernyawa?
Ku rasa masih Hanya saja, ia mengamati Tanpa mengomentari
Sesekali suaranya menyuarakan Itu yang ku nantikan Biasanya tak sesuai harapan Namun, membuat sinergi positifku bangkit
Yhaa.. kritikannya yang selalu ku rindukan Patner yang tanpa sengaja asik Dan menyambung di out of the box Untuk ide serta pola pikir